Selasa, 01 April 2014

Politik Luar Negeri Iran: Perspektif Global

VOAISLAM.COM  - -Oleh: Dina Y. Sulaeman*
Indonesia Council on World Affairs (ICWA), sebuah lembaga yang didirikan almarhum Ali Alatas, mantan Menlu Indonesia, kemarin menyelenggarakan sebuah forum kuliah politik dengan pembicara Menlu Iran, Dr. Javad Zarif. ICWA adalah lembaga yang beranggotakan para diplomat yang berada di Indonesia (baik diplomat Indonesia maupun negara-negara sahabat), serta para akademisi dan think tank di bidang politik luar negeri. Peneliti Global Future Institute, Dina Y. Sulaeman, berkesempatan hadir dalam acara tersebut dan menuliskan laporannya berikut ini.

***
Mohammad Javad Zarif. Wajahnya penuh senyum, dengan tatapan mata jenaka. Suasana yang awalnya formal jadi terasa segar melihat gesturnya yang rendah hati dan ramah. Saat berpidato, Menlu Iran ini menunjukkan kemampuan orasi yang luar biasa. Terkadang nadanya sangat tegas dan penuh semangat, terkadang menyelipkan humor dan membuat hadirin tergelak.  Dengan bahasa Inggris yang sangat lancar, selama sekitar 45 menit tanpa teks, dia menjelaskan kebijakan luar negeri Iran dari perspektif global. Argumen-argumennya memakai logika universal yang berpijak pada ke-kita-an, bukan ‘saya' atau ‘mereka'.

Berakhirnya Era Zero-Sum

Dalam kuliah politik bertajuk Foreign Policy of the Islamic Republic of Iran: A Global Perspective yang diselenggarakan Indonesia Council on World Affairs (ICWA), 7 Maret 2014, Menlu Iran Javad Zarif menjelaskan bahwa era politik zero-sum sudah habis. Di zaman globalisasi ini, apapun yang terjadi di satu sudut bumi, akan berpengaruh pada hampir semua penduduk bumi.  Misalnya, masalah perubahan iklim;  tidak ada satu negara pun yang mengklaim bisa menghadapinya seorang diri; selalu membutuhkan kerjasama antarnegara.

Hubungan internasional kini tidak lagi didominasi oleh dua negara besar (AS dan Uni Soviet) yang mendeterminasi arah kebijakan global seperti era Perang Dingin. Dunia tengah beralih dari community of nations (komunitas negara-negara) ke arah global community (komunitas global), di mana individu, kelompok, jaringan, mampu mempengaruhi hubungan internasional, dan artinya mampu berperan untuk mengubah situasi ke arah yang baik bagi kemanusiaan.

Dalam situasi seperti  ini, isu security (keamanan) tidak mungkin lagi dipandang sebagai isu zero-sum (aku menang, engkau kalah). Sebuah negara tidak mungkin lagi meraih keamanan dengan cara mengorbankan keamanan negara-negara lain.  Tidak ada yang bisa aman, ketika pihak lain tidak aman. Bukti terbesar dari pendapat ini adalah Tragedi 9/11. Mr. Zarif menceritakan, dirinya pernah bertugas di PBB, New York, sebelum dan setelah 9/11. Dengan matanya sendiri dia melihat ekspresi cemas dan ketakutan orang-orang New York.

Zarif bertanya retoris, "Bagaimana mungkin AS, sebuah negara dengan bujet militer terbesar di dunia, ternyata tak mampu memberikan keamanan kepada warganya sendiri? Bahkan gedung yang seharusnya paling aman, Pentagon, juga tak luput dari serangan teroris."

Amerika, yang memiliki nuklir, dan satu-satunya negara di dunia yang pernah mengebom negara lain (Jepang) dengan bom nuklir, ternyata tetap tidak aman.

 "Tetapi mengapa sebagian pemerintah negara-negara sulit sekali memahami ini?" tanya Zarif. "Dalam perang, tidak ada yang menang. Semua pihak akan kalah (rugi), meski kekalahannya punya derajat berbeda-beda, ada yang minus satu, ada yang minus sepuluh. Tapi sama-sama minus, sama-sama rugi."

Atas dasar perspektif ini, Iran atau siapapun, menurut Zarif, sesungguhnya tidak memerlukan senjata nuklir. Senjata nuklir tidak menjamin keamanan kepada negara manapun. Perjanjian NPT (Non Proliferasi Treaty) didirikan atas tiga pilar, tidak memproduksi senjata nuklir, perlucutan senjata nuklir yang telah ada, dan penggunaan nuklir untuk kepentingan damai.

"Ketika Iran ditekan dan diintimidasi dengan alasan nuklir, artinya, justru ada pelanggaran terhadap NPT, yaitu menghalangi Iran untuk mengembangkan teknologi nuklir damai," tandas Zarif.

Saat Iran disanksi, perdagangan di pasar gelap meningkat. Segelintir pedagang akan mengambil keuntungan besar, sementara rakyat Iran kebanyakan akan dirugikan oleh harga yang sangat tinggi.

"Lalu, rakyat Iran menjadi sangat marah kepada negara-negara pemberi sanksi.  Mereka menilai bahwa kesulitan ekonomi yang ada adalah gara-gara negara-negara pemberi sanksi. Mereka tidak marah kepada pedagang yang mengambil keuntungan di pasar gelap itu. Jadi, siapa yang rugi sebenarnya?" Zarif kembali memberi pertanyaan retoris.

Di sini, Zarif memberi pesan bahwa AS dan Eropa dengan segala sanksinya itu, telah merugikan rakyat Iran  dan diri mereka sendiri sekaligus; dan telah menciptakan segelintir oportunis yang bergelimang uang dengan memanfaatkan sanksi.

Selain itu, dijelaskan oleh Zarif, terbukti bahwa meski disanksi belasan tahun, Iran tetap berhasil menambah mesin sentrifugalnya, dari 200 unit (di awal tahun 2000-an) menjadi 19.000 unit. Dukungan rakyat kepada pemerintah pun justru semakin meningkat. Padahal, salah satu tujuan sanksi Barat adalah agar rakyat menjadi marah kepada pemerintah dan terjadi pergantian rezim. Namun, yang terjadi adalah turn-out vote (jumlah peserta pemilu) yang sangat tinggi, menunjukkan dukungan rakyat terhadap sistem. Hal ini memberikan legitimasi yang besar kepada pemerintah; memberi mereka kekuatan untuk bernegosiasi dengan pihak luar.

Tentang Suriah

Dalam sesi tanya-jawab, penulis berkesempatan mengajukan pertanyaan kepada Mr. Zarif, "Sejak konflik Suriah, di Indonesia banyak pihak yang melakukan hate-speech (pidato/pernyataan kebencian ) terhadap Iran. Apakah Anda melihat masalah ini akan jadi hambatan bagi hubungan Iran-Indonesia?"

Mr. Zarif menjawab, "Siapa saja yang memandang konflik Suriah sebagai konflik Sunni-Syiah,  hanya akan merugikan Dunia Islam dan kemanusiaan. Konflik ini sama sekali bukan masalah sektarian.  Umat Islam harus bersatu menghadapi terorisme yang terjadi di Suriah. Allah berfirman, qul yaa ahlal kitaab ta'aalaw  ilaa kalimatin sawaa... " (Zarif mengutip ayat Quran dengan fasih, yang berisi seruan dari Allah kepada semua pemegang kitab wahyu agar bersatu dalam kalimat yang tunggal, bahwa tidak ada yang patut disembah selain Allah).

Situasi yang terjadi di Suriah saat ini, selain menyedihkan, juga sangat mempermalukan Islam. Kita lihat sesama Al Qaida di Suriah saat ini saling memenggal kepala. Mereka mengklaim diri sebagai muslim sehingga perilaku mereka itu benar-benar mempermalukan Islam," kata Zarif.

"Barat berusaha memberikan ilusi bahwa konflik Suriah adalah rentetan dari Arab Spring dan bahkan berilusi bahwa dalam dua bulan Assad bisa digulingkan. Ilusi ini harus dihapus. Rakyat Suriah harus dibiarkan untuk menentukan sendiri nasib mereka, tanpa campur tangan asing. Iran memandang bahwa sama sekali tidak boleh ada intervensi asing dan solusi militer untuk Suriah," tambahnya.

Mr Zarif juga kembali mengingatkan bahwa ilusi zero-sum harus dihapus dalam memandang konfik Suriah. Kondisi Suriah saat ini membuktikan, tidak ada yang menang; semua pihak sama-sama kalah dan rugi di Suriah.

"Namun upaya [untuk mengubah ilusi] itu, sepertinya masih memerlukan waktu yang panjang," kata Zarif.

Tak Ada yang Lebih Mahal dari Kemerdekaan

Lebih lanjut, terkait nuklir, Iran mengambil langkah untuk lebih memperkuat hubungan dengan negara-negara yang sevisi dengannya dalam masalah pemanfaatan nuklir damai. Menurut Zarif, lebih baik memperkuat tangan negara-negara yang tidak setuju dengan sanksi daripada Iran daripada terus berseteru dengan negara-negara yang berkeras kepala untuk menerapkan sanksi kepada Iran.
"Negara-negara itu, terutama diplomatnya, punya kepentingan pribadi dengan terus mengangkat isu sanksi,  demi peningkatan karir mereka," kata Zarif yang disambut tawa peserta kuliah politik itu, yang sebagian besarnya adalah para diplomat.

"Yang diperlukan Iran kini adalah masalah kepercayaan internasional. Dengan hitung-hitungan logis saja, tanpa perlu melibatkan masalah ideologi, Iran tahu bahwa upaya memperluas power (kekuasaan) dan dominasi di kawasan, justru akan melemahkan power Iran sendiri," lanjutnya.

"Barat seharusnya mengakui bahwa sanksi telah gagal," tandas  Zarif. Tapi yang terjadi, sebagian negara tetap mau berbisnis dengan Iran; saat diancam sanksi oleh AS, mereka bisa balik mengancam akan menuntut ke WTO. Zarif juga  menceritakan, selain tekanan embargo, Iran juga diserang melalui terorisme. Hingga kini ada lima ilmuwan nuklir yang dibunuh oleh agen Israel.

"Kami telah membayar mahal demi mempertahankan proyek nuklir damai ini. Namun, tidak ada yang lebih mahal dari kemerdekaan, harga diri, dan integritas," tegas Zarif.[IRIB Indonesia/PH]

 *mahasiswa Program Doktor Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, peneliti di Global Future Institute

SUMBER ; IRIB

Senin, 31 Maret 2014

Bayang-bayang Krisis Suriah di KTT Liga Arab

VOAISLAM.COM - Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Liga Arab yang digelar Selasa (25/3) di Kuwait rupanya tak lepas dari pengaruh krisis Suriah. KTT Liga Arab ke 25 rencananya digelar selama dua hari mulai 25-26 Maret.

Pengaruh krisis Suriah terhadap KTT ini baik itu sebelum maupun ketika sidang para pemimpin Arab ini digelar sangat kentara. Para pemimpin negara-negara anggota Liga Arab sebelum sidang resmi telah menggelar pertemuan tertutup dan sepakat untuk tidak membahas friksi antar negara-negara Arab kawasan Teluk Persia.

Friksi yang timbul di antara anggota Dewan Kerjasama Teluk Persia (P-GCC) dipengaruhi oleh krisis Suriah, karena pemerintah Qatar pasca proses transisi kekuasaan dari Sheikh Hamad kepada putranya Sheikh Tamim telah mengubah kebijakannya dalam krisis Suriah dari intervensi aktif ke arah intervensi yang berhati-hati. Hal ini telah mengakibatkan ketidakpuasan anggota P-GCC lainnya khususnya Arab Saudi.

Ketidakpuasan Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain atas kinerja baru Qatar sangat serius. Bahkan ketiga negara ini tak segan-segan menarik duta besar mereka dari Doha.

KTT Liga Arab di Kuwait saat digelar benar-benar terpengaruh oleh krisis yang tengah berkobar di Suriah. Sabah Ahmad al-Sabah, emir Kuwait yang memimpin sidang ke 25 Liga Arab secara tak langsung mengkritik intervensi negara-negara Arab dalam krisis Damaskus dan memperingatkan siapa saja yang berpikir terhindar dari dampak krisis Suriah benar-benar berada dalam kekeliruan. Hal ini dikarenakan dampak dari krisis Suriah kini telah melampaui negara ini.

Sheikh Tamim bin Hamad, emir Qatar dalam pidatonya hanya mengisyaratkan secara singkat krisis Suriah dan sikap tersebut mengidikasikan bahwa ia lebih memilih bersikap lebih berhati-hati dalam menyikapi krisis Damaskus supaya jangan sampai bernasib seperti ayahnya.

Fokus emir Qatar terhadap isu Palestina secara tidak langsung mengindikasikan penentangannya terhadap kinerja Arab Saudi dalam krisis Suriah sehingga friksi antara Riyadh dan Doha dalam KTT ini semakin tampak jelas. Berbeda dengan strategi emir Qatar dan Kuwait, Pangeran Salman bin Abdulaziz, pangeran mahkota Arab Saudi dalam pidatonya kembali menekankan urgensitas dukungan terhadap kelompok teroris dan kubu oposisi Suriah.

Meski demikian Pangeran Salman mengakui keseimbangan kekuatan di Suriah menguntungkan negara ini. Sebelumnya, solidaritas dan kesamaan visi di antara negara-negara Arab terkait krisis Suriah sangat kuat, namun keberhasilan militer Sudiah di medan tempur, kejahatan nyata dan brutalitas kelompok teroris, korban besar akibat krisis ini serta kekalahan opsi militer dalam krisis Damaskus telah mendorong munculnya friksi di antara anggota Liga Arab.

Kini Arab Saudi dan mitra-mitranya mulai terkucil dalam KTT Liga Arab, bahkan friksi di antara negara anggota pun semakin tajam. Perbedaan dan friksi tersebut akibat krisis Suriah. Dalam hal ini, Arab Saudi dan negara yang sehaluan dengan Riyadh gagal menyerahkan kursi Suriah di Liga Arab kepada kelompok oposisi Suriah. Dan sampai saat ini kursi Suriah di Liga Arab masih tetap kosong. (IRIB Indonesia/MF/NA)

SUMBER : IRIB

Minggu, 30 Maret 2014

PBB Mengecam Pembunuhan Penjaga Perbatasan Iran

VOAISLAM.COM  -Sekjen PBB Ban Ki-moon mengecam pembunuhan salah satu dari lima penjaga perbatasan Iran yang diculik oleh teroris dan dipindahkan ke wilayah Pakistan pada Februari lalu, dan mendesak upaya untuk menyeret para pelaku ke pengadilan.

"Sekjen PBB mengutuk pembunuhan salah satu dari lima penjaga perbatasan Iran yang diculik pada 6 Februari di wilayah tenggara negara itu oleh kelompok militan," kata juru bicara Ban dalam satu pernyataan, Selasa (25/3).

Dia menambahkan, Sekjen PBB menyampaikan solidaritas dengan pemerintah Iran dan orang-orang, yang dihadapkan dengan tindakan mengerikan di tengah perayaan Nouruz, yang diselenggarakan dengan damai.

Sekjen PBB mengirimkan ucapan belasungkawa kepada keluarga korban. Ban juga mendesak agar para pelaku diadili di pengadilan, kata pernyataan itu.

"Dia mengharapkan kesuksesan upaya pemerintah Iran untuk membebaskan orang-orang yang masih ditawan," kata juru bicara itu.

Pada 6 Februari, lima penjaga perbatasan Iran diculik di wilayah Jakigour, Sistan-Baluchestan, yang berbatasan dengan Pakistan. Mereka kemudian dipindahkan ke wilayah Pakistan.

Kelompok teroris, Jaish-ul Adl mengaku bertanggung jawab atas penculikan tersebut.

Pada hari Senin, Kementerian Dalam Negeri Iran mengkonfirmasikan bahwa Jamshid Danaeifar, salah satu dari lima penjaga perbatasan yang diculik telah dibunuh.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Marzieh Afkham menyatakan kesedihan atas pembunuhan itu dan mengatakan pemerintah Pakistan harus bertanggung jawab atas peristiwa tragis tersebut. (IRIB Indonesia/RM)

SUMBER : IRIB

Sabtu, 29 Maret 2014

Afkham: Pakistan Bertanggung Jawab atas Gugurnya Sandera Iran

VOAISLAM.COM  - -Marzieh Afkham, juru bicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran seraya menyatakan penyesalannya atas berita gugurnya salah satu sandera Iran di tangan kelompok teroris menilai pemerintah Pakistan harus bertanggung jawab atas peristiwa menyedihkan ini.

Seperti diberitakan Tasnim News, Marzieh Afkham seraya menyatakan penyesalannya yang mendalam atas berita gugurnya salah salah satu sandera Iran di tangan teroris menyebut Islamabad bertanggung jawab dalam masalah ini.

Afkham seraya menandaskan bahwa sampai kini belum ada langkah serius dari pihak Pakistan, menambahkan, Iran menuntut tindakan serius dan cepat pemerintah Islamabad untuk menangkap dan menyerahkan teroris serta menjamin keamanan tentara penjaga perbatasan Iran yang diculik. Ia menilai tidak adanya langkah serius terhadap segala bentuk pergerakan yang menyalahi hubungan persahabatan kedua negara bertentangan dengan bertetangga yang baik.

Jubir Kemenlu Iran mengungkapkan, petinggi Republik Islam berulang kali menyatakan kekhawatirannya atas aksi terorisme di berbagai titik perbatasan dan Tehran menekankan keseriusan Islamabad untuk mencegah lalu lalang dan pemanfaatan wilayah Pakistan oleh teroris.

"Perbatasan Iran dan Pakistan senantiasa merupakan perbatasan yang aman dan bersahabat, serta sampai kini belum ada pelanggaran dari wilayah Iran ke Pakistan, namun sangat disayangkan selama beberapa bulan terakhir aksi kelompok teroris yang memanfaatkan wilayah Pakistan untuk menyerang wilayah Iran semakin meningkat," tandas Afkham.

Jubir Kemenlu mengingatkan, "Iran siap menggalang kerjasama di semua sektor dengan pemerintah Pakistan untuk menjamin keamanan wilayah perbatasan kedua negara dan memerangi kelompok teroris. (IRIB Indonesia/MF/RM)

SUMBER: IRIB


Jumat, 28 Maret 2014

6 Farvardin, Pasdaran Lakukan Operasi Bait al-Moghaddas 4

VOAISLAM.COM - -Tanggal 6 Farvardin 1367 Hs (26 Maret 1988), pasukan Sepah Pasdaran Iran melakukan operasi Bait al-Moqhaddas 4 dengan sandi Ya Aba Abdillah al-Husein. Operasi ini dilakukan sebagai jawaban atas agresi rezim Saddam terhadap Halabcheh dengan tujuan membebaskan sebagian daerah tinggi Soleimaniyah, Irak di kawasan operasi Darbandikhan.

Dalam operasi ini, para pejuang Islam yang terdiri dari pasukan angkata darat dan laut Sepah Pasdaran memanfaatkan serangan artileri yang didukung oleh angkatan udara. Serangan ini berhasil memaksa musuh Baath menerima kekalahan.

Hasil dari operasi Bait al-Moghaddas adalah pembebasan kawasan tinggi dan penting Shakh Shemiran, Shah Soursar, Posht Ghaleh dan juga sejumlah desa. Selain itu, mereka berhasil merebut tank, panser, kendaraan berat dan ringan, dan begitu juga amunisi. (IRIB Indonesia)

SUMBER :IRIB

Kamis, 27 Maret 2014

Obama: AS tidak akan Gunakan Militer untuk Hadapi Rusia

VOAISLAM.COM - -Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengatakan, Amerika tidak akan menggunakan kekuatan militer terhadap Rusia untuk mengembalikan Republik Otonomi Crimea ke pangkuan Ukraina.

Berbicara dalam sebuah konferensi pers di Den Haag, Belanda, Selasa (25/3), Obama berjanji bahwa Amerika akan menggunakan kekuatan militer untuk membela semua negara anggota NATO.

"Kami akan membela diri terhadap setiap ancaman," katanya.

Dia menyatakan bahwa kekuatan militer tidak akan digunakan untuk mengembalikan Crimea ke Ukraina, yang bukan anggota NATO.

"Tidak ada harapan bahwa mereka akan terusir dengan kekerasan," ujar Obama mengacu pada pasukan Rusia yang berada di Crimea.

Obama mengakui Amerika dan sekutunya menggunakan opsi terbatas untuk menekan Rusia terkait krisis di Ukraina. "Tidak benar bahwa ada solusi sederhana untuk menyelesaikan apa yang terjadi di Crimea," tambahnya.

Pada hari Senin, Amerika dan sekutunya mengeluarkan Rusia dari kelompok G8 menyusul krisis di Ukraina dan status Crimea.

Namun, Rusia tidak menganggap serius ancaman terbaru Barat untuk membatalkan keanggotaan Moskow di G8.

"G8 adalah sebuah organisasi informal yang tidak memberikan kartu keanggotaan, dan sesuai definisi, organisasi itu tidak dapat mendepak siapa pun," kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov. (IRIB Indonesia/RM)

SUMBER: IRIB 

Rabu, 26 Maret 2014

India Siap Bayar Impor Minyak Mentah dari Iran dengan Euro

VOAISLAM.COM - -Sumber-sumber di Kementerian Minyak dan Gas Bumi India mengatakan, New Delhi siap untuk membayar impor minyak mentah dari Republik Islam Iran dengan menggunakan euro ketimbang rupee setelah seorang pejabat Tehran baru-baru ini mengatakan untuk memilih pembayaran dengan menggunakan euro.

Menurut surat kabar Telegraph pada Senin (24/3), sumber-sumber yang berbicara secara anonim itu menandaskan bahwa India akan mengubah praktek pembayaran rupee sekarang segera setelah permintaan resmi Iran.

Mohsen Qamsari, Direktur Perusahan Minyak Nasional Iran (NIOC) untuk Urusan Internasional pada tanggal 16 Maret mengatakan,Tehran lebih memilih untuk menerima pembayaran untuk ekspor minyak mentahnyake India dalam bentuk euro bukan rupee setelah pelonggaran sanksi terhadap Iran menyusul kesepakatan nuklir sementara di Jenewa pada tanggal 24 November 2013. (IRIB Indonesia/RA)

SUMBER ; IRIB