Minggu, 06 April 2014

Persatuan, Kebutuhan Dunia Islam Masa Kini

VOAISLAM.COM - -Islam sebagai agama persaudaraan dan perdamaian tidak pernah mengakui prinsip kekerasan, apalagi terorisme. Nabi Muhammad Saw sejak jauh hari sudah menyerukan persaudaraan umat Islam tanpa membedakan etnis maupun warna kulit. Nabi terakhir ini diutus Allah swt untuk memperbaiki akhlak umatnya dan menebarkan rahmah serta kebaikan bagi seluruh alam. Nabi Muhammad Saw sendiri merupakan suri tauladan terbaik bagi umat manusia, terutama dari keluhuran dan kesempurnaan akhlaknya.
 
Mengambil momentum kelahiran manusia agung ini, di Iran maulid Nabi Muhammad Saw diperingati sebagai "Pekan persatuan" yang dimulai dari 12 Rabiul Awal hingga 17 Rabiul Awal. Muslim Sunni memperingati maulid Nabi tanggal 12 Rabiul Awal, sedangkan Muslim Syiah memperingatinya tanggal 17 Rabiul Awal. Perbedaan itu bukan menjadi faktor pemecah belah, tapi sebaliknya justru menjadi pemersatu.
 
Demi merekatkan persatuan umat Islam di Tehran baru-baru ini digelar Konferensi Internasional Persatuan Islam ke-27 yang diselenggarakan tanggal 17-19 Januari 2014. Konferensi ini mengusung tema"Al-Quran dan Perannya dalam Memperkuat solidaritas di antara Umat Islam serta isu Palestina." Hadir dalam pertemuan tersebut sejumlah ulama dan cendekiawan Muslim dari berbagai negara dunia seperti, Indonesia, Malaysia, Mesir, Irak, Lebanon, Arab Saudi, Thailand, Suriah, Aljazair, Inggris, Amerika Serikat, Australia, Uganda, Tunisia, Belanda, Qatar, Yaman,RusiadanYunani.
 
Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei memandang masalah terpenting dunia Islam saat ini adalah persatuan.Pernyataan tersebut ditegaskan Rahbar dalam pidatonya memperingati pekan persatuan, yang mengambil momentum maulidNabi MuhammadSaw dan kelahiran Imam Shadiq. Di hadapanpara pejabat, tamu asing peserta Konferensi Persatuan Internasional ke 27, para duta besar negara-negara Islam serta berbagai lapisan masyarakat,Ayatullah Khameneihari Ahad (19/1) menjelaskan urgensitas persatuan di dunia Islam. Beliau menekankan, "Memerangi setiap anasir anti persatuan merupakan kewajiban besar bagi Muslim baik Syiah maupun Sunni."
 
Munculnya gerakan ekstrim yang mengatasnamakan Islam serta kelompok teroris di tingkat global merupakan hasil dari strategi adu dombaantarmazhab yang dipelopori oleh ideologi takfiri. Selain itu,tidak boleh dilupakan dukungan kekuatan hegemonik global dan rezim diktator yang berkedok Islam terhadap kelompok takfiri.
 
Ayatullah Khamenei dalam pidatonya menyebut kebangkitan Islam yang terjadi di kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah sebagai fenomena getir bagi musuh. Untuk itu, kekuatan hegemonik menyulut friksi antarmazhab Islam demi mencegah kebangkitan Islam bangsa-bangsa Muslim di kawasan. Di abad 21, strategi adu domba musuh terhadap umat Islam tampil lebih lunak, khususnya ketika menghadapi gerakan Kebangkitan Islam. Menurut Rahbar, pembagian Sudan dan berbagai transformasi yang terjadi di Libya serta Mesir merupakan kepanjangan dari strategi penghancuran persatuan di Dunia Islam.
 
Kaum imperialis membidik persatuan Islam dengan memanfaatkan berbagai ideologi menyimpang seperti takfiri dengan tujuan merusak setiap upaya untuk merealisasikan terwujudnya persatuan umat Islam. Salah satu bentuk nyata dari upaya ini adalah gerakan untuk menghancurkan identitas bangsa Islam, seperti yang telah diterapkan kepada bangsa Palestina. Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menjelaskan, "Imperialis global selama 65 tahun berusaha keras menghapus nama Palestina, namun mereka gagal karena di saat-saat yang sensitif seperti perang 33 hari di Lebanon, 22 hari dan 8 hari di Jalur Gaza, umat Islam menunjukkan bahwa mereka masih hidup. Meski Amerika Serikat mengalokasikan dana besar-besaran dalam kasus ini, namun umat Islam berhasil menampar muka rezim ilegal Israel."
 
Menurut Ayatullah Khamenei, salah satu petaka dunia modern adalah munculnya orang-orang yang secara terang-terangan mendukung kejahatan dan pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Penindasan bangsa Palestina oleh rezim Zionis akan terus berlanjut dengan dukunganAmerika Serikat dan Barat. Lembaga-lembaga internasional hingga kinibelum mampu berbuat banyak. Untuk itu, dunia Islam,memikul tugas penting terhadap masalah Palestina. Rahbar menandaskan,"Kami percaya bahwa dunia Islam tidak akan mengabaikan isu Palestina dan mengecam rezim penjajah dan para pendukung mereka."
 
Ayatullah Khamenei dalam pidato lainnya menegaskan urgensi dukungan umat islam terhadap perjuangan bangsa Palestina, dan menyebut perlawanan terhadap Israel sebagai prinsip Iran dan umat Islam dunia. "Agenda Palestina bagi Republik Islam bukan sebuah taktik, tapi sebuah prinsip yang berpijak dari keyakinan Islam. Kita berkewajiban untuk mengeluarkan wilayah ini dari cengkeraman rezim agresor [Israel] dan negara pendukungnya di dunia, kemudian menyerahkannnya kepada bangsa Palestina; Inilah kewajiban agama; kewajiban seluruh Muslim; kewajiban seluruh pemerintah Islam; sekali lagi inilah kewajiban Islam."(Pidato Ayatullah Khamenei, 25/5/1391 Hs).
Di bagian lain pidatonya, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran menyoroti potensi besar dunia Islam dari berbagai sisi seperti ekonomi, politik, etnis, bahasa, geografi dan mazhab yang menjadi titik persamaan dunia Islam yang menekankan persatuan. Unsur ini menjadi faktor penting pembentuk kekuatan lunak umat Islam yang mampu mempersatukan Dunia Islam dalam menghadapi konspirasi dan ancaman musuh. Namun potensi ini masih belum mampu dicerna dan digali oleh umat Islam sendiri.
 
Faktor yang membuat umat Islam belum mampu menggali kapasitas tersebut harus dicermati dari pergerakan musuh yang senantiasa berusaha menghancurkan persatuan di antara umat Muslim. Musuh tidak pernah diam menyaksikan persatuan di antara Muslim. Namun yang lebih penting dalam kasus ini adalah kelalaian para cendikiawan akan urgensitas persatuan Islam. Hasil dari dua gerakan merusak ini adalah hancurnya stabilitas dan keamanan negara-negara Islam.
 
Ironisnya sejumlah pemerintah di dunia Islam malah mempersiapkan perpecahan mazhab, konflik sosial di tengah masyarakat Islam dengan mendukung ideologi takfiri ketimbang memupuk persatuan. Oleh karena itu, Rahbar menyebut tugas menciptakan persatuan berada di pundak para cendikiawan, ulama dan elit politik. Beliau menjelaskan, elit politik harus menyadari bahwa kemuliaan dan kehormatan mereka sangat bergantung rakyat dan bukannya pada pihak asing.
 
Kini dunia Islam tengah menghadapi ancaman terbesar dalam bentuk adu domba yang dilancarkan para musuh. Dalam kondisi demikian, para ulama dan cendekiawan di setiap negara memiliki peran penting dalam membimbing masyarakat, terutama menghadapi maraknya para pengadu domba yang tidak menghendaki terwujudnya persatuan.
 
Jalan untuk menyelamatkan umat Islam dari kondisi yang sulit saat ini adalah mengikuti jejak Rasulullah Saw dan al-Quran. Ayatullah Khamenei mengingatkan peran umat Islam saat ini, "Kini kita semua sebagai Muslim berkewajiban untuk mewujudkan kebebasan sesuai pandangan Islam, membebaskan bangsa-bangsa Muslim, terbentuknya pemerintahan merakyat dan demokratis di seluruh dunia Islam, partisipasi seluruh lapisan masyarakat dalam pengambilan keputusan mengenai nasib mereka dan bergerak menuju penerapan syariah Islam, Inilah yang akan membebaskan bangsa-bangsa [Muslim],". (IRIB Indonesia/PH)

SUMBER: IRIB

Sabtu, 05 April 2014

Perasaan Imam Khomeini ra Menyaksikan Pengorbanan Rakyat

VOAISLAM.COM - Spiritual masyarakat, keluarga syuhada dan keikhlasan para pejuang di medan perang sangat mempengaruhi perasaan Imam Khomeini ra. Saya dalam beberapa kesempatan menyaksikan Imam Khomeini ra menangis, bukan hanya ketika dibacakan kidung duka dan kisah musibah. Setiap kali kami berbicara tentang pengorbanan rakyat, beliau tampak bersemangat dan terpengaruh dengan kisah-kisah itu.

Sebagai contoh, ketika di tempat penyelenggaraan shalat Jumat di Tehran, panitia penyelenggara memecahkan tabungan anak-anak yang dihadiahkan untuk perjuangan di medan tempur dan ketika dikumpulkan tampak seperti gunungan uang. Imam Khomeini ra waktu itu di rumah sakit dan menyaksikan peristiwa itu lewat televisi dan luapan perasaan beliau tampak jelas dan berkata kepada saya, "Apakah engkau melihat apa yang dilakukan anak-anak kecil itu?"

Waktu itu saya melihat betapa mata beliau telah penuh dengan air mata dan menangis. (IRIB Indonesia / Saleh Lapadi)

Sumber: Madhe Khourshid; Gozideh-i az Khaterat Hazrate Ayatollah al-Udzma Sayid Ali Khamenei Darbare-ye Shakhsiyat-e Imam Khomeini ra, Rahbar-e Kabir-e Engqhelab Eslami, Entesharat Enqelab Eslami, 1391 HS, Tehran, cetakan pertama.
 
SUMBER: IRIB

Jumat, 04 April 2014

Nouruz Perspektif Ayatullah Khamenei

VOAISLAM.COM - -Peringatan Nouruz dalam pemikiran para tokoh memiliki tempat penting. Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei juga termasuk di antara para pemikir yang memiliki pandangan unik dan baru tentang Nouruz. Menurut perspektif Rahbar, musim semi adalah manifestasi dari kesegaran dan keceriaan. Nouruz juga merupakan sebuah simbol dari inovasi dan kesempatan untuk membedah hati, sebuah kesempatan untuk menyegarkan hati dengan mengingat Tuhan.

Ayatullah Khamenei mengatakan, "Nouruz adalah sebuah media untuk menampakkan penghambaan manusia kepada Tuhan dan ketundukan mereka di hadapan Sang Pencipta. Perayaan Nouruz merupakan sebuah simbol inovasi, kesegaran, dan keceriaan. Hari Nouruz juga merupakan lambang kasih sayang dan cinta terhadap sesama, kasih sayang di antara famili, dan juga simbol untuk memperkuat jalinan persaudaraan dan cinta di antara sahabat dan kenalan serta sarana untuk menghapus dengki."

Dalam pandangan Rahbar, Nouruz di beberapa negara regional hanya dirayakan sebagai sebuah hari raya kuno. Di Iran sebelum Islam, Nouruz juga diperingati sebagai hari raya kuno yang memiliki tradisi-tradisi yang indah di samping adanya beberapa unsur khurafat dan tahayul. Pasca masuknya Islam ke tanah Persia, masyarakat Iran mulai memperkaya peringatan Nouruz dengan unsur-unsur yang lebih bernilai dan mereka mengubahnya – dari sekedar sebuah hari raya kuno – menjadi peluang untuk penghambaan dan meraih keridhaan Tuhan.

Ayatullah Khamenei menjelaskan, "Pertama, Nouruz sekarang bagi bangsa Iran adalah mencurahkan perhatian kepada Tuhan, di detik-detik pergantian tahun mereka akan membaca doa ‘Wahai Dzat yang mengubah tahun dan keadaan.' Masyarakat memulai tahu baru dengan mengingat Tuhan dan meningkatkan perhatian mereka kepada Sang Khalik. Ini adalah sesuatu yang bernilai. Kedua, bangsa kita memanfaatkan Nouruz sebagai sarana silaturahmi dan momen untuk menghapus dengki serta media untuk merekatkan kasih sayang terhadap sesama. Ini adalah persaudaraan dan kasih sayang Islam itu sendiri serta jalinan silaturahim Islami. Mereka juga menjadikan Nouruz sebagai peluang untuk berziarah tempat-tempat suci, di mana ini semua sangat baik. Ini adalah seni bangsa Iran dan selera warga Muslim Iran, di mana mereka mengubah unsur-unsur yang keliru menjadi hal-hal yang baik dan benar."

Nouruz sarat dengan rahasia dan perayaan ini menandai dimulainya musim semi yang dihiasi dengan tradisi-tradisi baik. Salah satu tradisi mulia Nouruz adalah memperkuat tali silaturahim di antara sanak falimi dan keluarga, di mana menurut ajaran Islam, kegiatan itu akan memperbaiki perilaku, menyehatkan mental, memperpanjang umur, dan menambah rezeki. Pada dasarnya, merekatkan hati satu sama lain termasuk di antara keunikan Nouruz. Orang-orang baik tidak hanya memanfaatkan Nouruz untuk mempererat hubungan antar sesama, tapi juga ingin meningkatkan keintiman dengan Tuhannya.

Orang-orang saleh berpetualang mencari keridhaan Tuhan dan untuk tujuan itu, mereka bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang terhadap sesama. Manusia-manusia berpengetahuan menganggap Nouruz sebagai fase baru dalam kehidupannya dan pijakan untuk naik ke tempat yang lebih tinggi. Ayatullah Khamenei percaya bahwa sangat baik bagi manusia untuk menetapkan pijakan tertentu dalam gerakan kehidupannya, jika tidak, kehidupan akan selalu seirama dan kehidupan yang seirama ini biasanya akan mencegah mereka untuk berinovasi dan berkarya.

Nouruz adalah sebuah babak baru dalam kehidupan seseorang, di mana dapat menjadi sebuah garis start untuk perubahan-perubahan baru, pekerjaan baru, pemikiran baru, tekad baru, dan motivasi baru. Bagi seorang individu, gerakan menuju kemajuan akan terwujud ketika ia meluangkan waktu untuk membuka lembaran-lembaran lama. Ia harus menyingkap kesalahan dan faktor-faktor kegagalan di masa lalu untuk mengatasinya.

Ayatullah Khamenei menaruh perhatian pada masalah tersebut dan menilai seseorang perlu mengatasi faktor-faktor kegagalan di masa lalu untuk memiliki sebuah gerak dinamis. Menurut perspektif Rahbar, langkah itu akan membuka ufuk-ufuk kemajuan bagi manusia dan memudahkannya untuk melangkah maju dan mengembangkan karir. Beliau mengatakan bahwa langkah terpenting untuk mengatasi faktor kegagalan di masa lalu adalah memperbaiki hubungan kita dengan Tuhan.

Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran berkata, "Menurut pandangan saya, poin utama yang perlu diperhatikan (pada hari Nouruz) oleh manusia adalah masalah hubungannya dengan Tuhan. Mereka harus berpikir baik di tahun baru dan apa yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya telah berlalu. Sekarang adalah sebuah babak baru dan kita harus menetapkan sebuah hubungan baru dengan Allah Swt." Memperbaiki hubungan dengan Tuhan tentu saja akan menyelesaikan sebagian besar dari problema manusia. Imam Ali as berkata, "Barang siapa yang memperbaiki hubungannya dengan Tuhan, maka Tuhan akan memperbaiki hubungan dia dengan masyarakat."

Memperbaiki hubungan dengan Tuhan sama seperti merawat pepohonan agar tumbuh dan berkembang lebih baik. Para pemilik kebun biasanya akan memotong ranting-ranting yang sudah kering dan cabang-cabang yang tidak perlu agar pohon leluasa bernafas dan memberikan dedaunan yang hijau. Manusia juga perlu menghilangkan noda-noda hitam dari hatinya dan kemudian mempersiapkan hatinya untuk menerima pancaran cahaya Ilahi. Bersama hilangnya noda hitam dari taman hatinya, maka hati itu akan dipenuhi makrifat sebagaimana musim semi yang penuh dengan bunga.

Ayatullah Khamenei percaya bahwa keburukan bersumber dari dosa-dosa kita. Siapa saja yang merenungkan tingkah lakunya, ia akan menemukan dosa-dosa itu dan ia harus berusaha untuk menghapusnya dari hati. Rahbar mengatakan, "Manusia sudah terbiasa dengan beberapa dosa sehingga menganggap remeh perbuatan itu. Jika manusia merenungkannya sejenak, maka dosa itu akan ditemukan dalam perilaku dan sikapnya. Tentu saja manusia berpikir positif tentang dirinya. Mereka jarang sekali menganggap dirinya buruk. Ini adalah musibah umat manusia yang membenarkan pekerjaan-pekerjaannya."

Islam sangat menekankan manusia untuk bersikap teliti dalam bertindak dan selalu mengevaluasi dirinya. Mengenai masalah evaluasi diri, Rahbar menjelaskan, "Kegiatan evaluasi diri adalah sesuatu yang sangat baik. Manusia harus mengevaluasi dirinya dan secara perlahan mengurangi dosa-dosanya… manusia kadang sudah terbiasa melakukan lima hingga sepuluh dosa, (di tahun baru) kita harus bertekad untuk menguranginya satu per satu, kita harus menghilangkan titik kelemahan ini secara perlahan."

Berkenaan dengan perkara hati, Ayatullah Khamenei mengatakan, "Dalam hati nurani manusia dan jiwa mereka, ada dimensi batin yang biasanya bersikap jujur dengan kita. Meskipun lahiriyah hati membohongi kita, namun batin hati kita akan bersikap jujur… hati memiliki sebuah dimensi batin yang jarang sekali kita perhatikan. Jika manusia memperhatikannya, maka ia akan menemukan dirinya telah ditelanjangi. Manusia baru sadar bahwa mereka telah akrab dengan beberapa dosa dan menganggap remeh beberapa dosa serta tunduk di hadapannya. Salah satu kegiatan yang bisa dilakukan di tahun baru adalah memikirkan cara untuk mengurangi dosa."

Manusia juga dapat menyelaraskan dirinya dengan alam, memperbarui dirinya bersama alam baru di musim semi, dan merasakan sebuah peristiwa baru dalam dirinya. Ayatullah Khamenei berkeyakinan bahwa peristiwa besar itu dapat terjadi pada siapa saja, tapi tentu ada syarat-syaratnya. Mengenai syarat-syarat untuk sebuah perubahan dalam diri manusia, Rahbar berkata, "Tentu saja ada sayaratnya jika kalian ingin menjadikan hari pertama Farvardin sebagai hari baru dan Nouruz. Syaratnya adalah lakukan sesuatu yang akan menciptakan sebuah peristiwa. Dimana letak peristiwa itu? Di dalam diri kalian! Jika kalian telah memperbaiki diri, jika kalian mampu membuat mutiara kemanusiaan kalian lebih bersinar, maka sungguh itu adalah Nouruz kalian." (IRIB Indonesia)

SUMBER: IRIB

Kamis, 03 April 2014

WHO: Polusi Udara Indoor Risiko Kesehatan Lingkungan Terbesar

VOAISLAM.COM - Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menyatakan bahwa polusi udara merupakan risiko kesehatan lingkungan tunggal terbesar di dunia.

Kesimpulan WHO itu berdasarkan perkiraan data pada 2012, di mana tujuh juta orang meninggal tiap tahun akibat paparan polusi udara. Data kematian itu melonjak dua kali dari perkiraan badan dunia pada 2008 silam.

Hal yang mengejutkan itu, seperti dilansir National Geographic, Rabu 26 Maret 2014, WHO mengatakan penghasil polusi udara yang sering terjadi yakni polutan dari dalam ruangan, yang muncul dari bagian dapur dengan bahan padat kotor, seperti seperti kayu, batu bara, sampai kotoran sapi.

Kirk Smith, Profesor kesehatan lingkungan global Universitas California Berkeley, AS yang sejak 1970-an mempelajari efek dapur menggunakan bahan bakar padat itu memaparkan risiko polusi udara dari dapur.

Menurutnya, begitu api menyala dengan bahan padat tersebut, sama dengan seseorang membakar 400 batang rokok per jam.

Penjelasan lebih ilmiah disampaikan Carlos Dora, koordinator unit Intervensi Kesehatan Lingkungan WHO. Dapur dengan bahan padat memaparkan partikel polusi udara akut.

"Rumah dengan tungku kotor menggunakan batu bara bisa mencapai 2.000 atau 3.000 mikrogram per meter kubik partikel," kata Dora.

Angka itu, tambahnya, mencapai 200 sampai 300 kali dari standar rata-rata harian konsentrasi partikel halus maksimum WHO yang dapat menetap dalam paru-paru manusia.

Untuk diketahui standar WHO menetapkan partikel halus yang dapat berdampak pada paru-paru yairu 25 hingga 100 kali lebih kecil dari rambut manusia.

Disebutkan, partikel kotor mikroskopik yang terhirup menyebabkan lebih parah dari kanker paru-paru. Dari tujuh juta kematian permatur itu, kanker paru-paru hanya berkontribusi enam persen saja dari kematian tersebut.

Polusi udara dan penyakit jantung

Laporan terakhir WHO menunjukkan bukti kerusakan jaringan jantung akibat polusi udara kian meningkat. Inilah yang diprediksi yang menyebabkan jumlah kematian meningkat secara dramatis.
"Ada banyak studi epidemiologi yang menunjukkan hubungan jelas antara polusi udara dan penyakit jantung serta stroke. Bukti ini kuat. Kami memiliki model yang lebih baik bagaimana perjalanan polusi dan stasiun pemantauan yang lebih banyak di daerah pedesaan," jelasnya.

Saat ini, menurut WHO, hampir tiga juta orang di dunia menggunakan bahan bakar padat kotor untuk memasak. Perempuan dan anak-anak yang tiap hari berurusan dengan dapur, disebutkan paling beresiko terkena polusi daripada laki-laki. Perbandingannya 49 persen dengan 42 persen untuk pria.

Dora mengatakan bahwa pada pria umumnya memiliki lebih banyak faktor risiko polusi dari merokok atau diet lemak tinggi.

Laporan WHO itu mengukur dampak polusi global berdasarkan wilayah. Pasifik Barat, Asia Tenggara dan Afrika menyumbang hampir empat juta kematian prematur. Sedangkan di wilayah Eropa dan Amerika yang telah memiliki aturan ketat soal polusi udara, disebutkan kurang dari 400 ribu kematian prematur. (IRIB Indonesia / Vivanews / SL)

SUMBER: IRIB

Turki Tembaki Pos-pos Militer Suriah

VOAISLAM.COM - Berbagai sumber melaporkan bahwa militer Turki menembaki pos-pos militer Suriah demi melancarkan lalu lalang para teroris ke wilayah Suriah.

Menurut laporan Tasnim News, wartawan televisi al-Alam di Suriah melaporkan, artileri militer Turki menembaki pos-pos militer Suriah di kota Kasab.

Wartawan tersebut hari Selasa (25/3) menekankan, artileri militer Turki mulai menembaki pos-pos militer Surih demi memudahkan masuknya teroris dari wilayah perbatasan negara ini ke sekitar Latakia.

Menurut sumber ini, artileri militer Turki menembaki wilayah di dekat Kasab dan mengakibatkan ledakan besar di kawasan tersebut.

Wartawan al-Alam dalam laporannya menyebutkan, militer Suriah telah menghancurkan sebuah balon mata-mata Turki di utara Latakia.

Pasukan Suriah juga mencegat sebuah kelompok bersenjata yang hendak memasuki Latakia melalui Turki dan berhasil menembak mati sejumlah besar dari mereka. (IRIB Indonesia/MF/RM)

SUMBER: IRIB

Rabu, 02 April 2014

Sayid Jamaluddin Asadabadi, Penyeru Kebangkitan dan Persatuan Islam

VOAISLAM.COM - 9 Maret 1897, hari syahidnya cendikiawan dan pejuang besar Dunia Islam, Sayid Jamaluddin Asadabadi. Pejuang besar ini dilahirkan di desa Asadabad, Provinsi Hamedan di Iran barat. Sejak kecil ia memiliki kecerdasan tinggi dan potensi besar dalam mempelajari ilmu. Di usianya yang ke 12, ia berangkat ke Najaf dan belajar dari ulama terkenal seperti Sheikh Murtadha Ansari dan Mullah Hussain-Qoli Hamedani. Dalam mempelajari ilmu, Sayid Jamaluddin melampaui teman-temannya dan dalam waktu singkat ia berhasil meraih derajat ijtihad.

Atas anjuran Sheikh Ansari, Sayid Jamaluddin kemudian pergi ke India. Di negara tersebut, Sayid Jamaluddin berusaha memobilisasi warga khususnya umat Muslim menentang imperialis Inggris. Tak lama kemudian ia pun pergi ke Afghanistan dan Hijaz. Sewaktu berada di Mesir, Sayid Jamaluddin menjadi sangat terkenal dan mendapat penghormatan besar dari sejumlah pejabat pemerintah. Beliau di negara ini mendapat kesempatan untuk mengajar dan menyebarkan ilmu serta ajaran Islam.

Sejumlah cendikiawan dan ulama besar Mesir pernah berguru kepada Sayid Jamaluddin. Sampai-sampai Sheikh Muhammad Abduh, mufti besar negara ini menyebut Sayid Jamaluddin sebagai guru yang bijak dan tak ada duanya. Sayid Jamaluddin memainkan peran penting dalam transformasi politik melawan imperialis di Mesir. Oleh karena itu, ia kemudian diusir dari Mesir atas upaya dan hasutan Inggris yang merasa kepentingannya terancam dengan keberadaan pejuang Islam ini.

Kemudian Sayid Jamaluddin pergi ke Paris dan di sana mencetak koran Urwah al-Wustqa dengan menggandeng Sheikh Muhammad Abduh. Melalui koran ini, Sayid Jamaluddin menyebarkan ideologi persatuannya. Lagi-lagi kendala menghadang upaya mujahid muslim ini dan Koran Urwah al-Wustqa hanya mampu terbit hingga edisi ke 18 karena dicekal.

Sayid Jamaluddin juga menulis artikel menjawab statemen Ernest Renan, penulis dan cendikiawan Perancis. Artikel ini menunjukkan keluasan dan kedalaman ilmu Sayid Jamaluddin terkait ajaran murni Islam. Selama kehidupannya yang penuh dengan pasang surut, Sayid Jamaluddin kerap mendapat perlakuan kasar dari pemerintah boneka di Dunia Islam. Misalnya di Iran meski ulama dan rakyat menyabut pemikiran Sayid Jamaluddin, namun Nasiruddin Shah, raja Iran mengusirnya karena penantangannya terhadap sistem pemerintahan despotik. Kondisi ini tidak membuat Sayid Jamaluddin putus asa, ia tak kenal lelah melanjutkan pencerahan terhadap sekelompok rakyat dan menebar ideologi konstruktifnya. Pada akhirnya mujahid besar Islam ini gugur syahid di tangan Sultan Abdul Hamid, khalifah Utsmani.

Sayid Jamaluddin adalah penyeru persatuan dan kebangkitan umat Islam serta pelopor upaya kembali pada nilai-nilai murni Islam dan memberantas bid'ah yang sesat. Mujahid besar Islam ini gencar menyeru umat Islam untuk menghindari perpecahan di antara mazhab. Oleh karena itu, beliau selama hidupnya senantiasa melakukan perjalanan ke berbagai negara di Asia, Eropa dan Afrika. Yang mendorong Sayid Jamal bangkit memerangi imperialisme dan despotisme adalah pengetahuannya yang mendalam mengenai ajaran Islam yang anti kezaliman dan kesadarannya atas konspirasi imperialis dunia.


Pengetahuan dan kesadaran tinggi Sayid Jamal ini disertai dengan wawasan dan bukannya dibarengi dengan kejumudan pemikiran atau fanatismenya terhadap satu etnis dan bangsa. Mungkin hal ini yang menyebabkan banyak bangsa seperti Afghanistan dan Arab mengklaim Sayid Jamal dari mereka. Kejeniusan dan potensi besar yang dimilikinya, kekayaan ilmu, retorika yang mengesankan, argumentasi kuat, kefasihan dan keberanian Sayid Jamal, pemimpin penyeru kebebasan yang mampu menanamkan benih-benih kesadaran di antara umat Muslim. Oleh karena itu, dalam satu dekade terakhir, di mana saja terdapat indikasi perlawanan dan gerakan Islam, maka kita juga dapat menyaksikan peran pejuang besar Islam ini.

Di era Sayid Jamal, sebagian besar umat Islam menanggung penderitaan besar dan mayoritas wilayah Islam diduduki oleh imperialis dunia seperti Perancis dan Inggris. Kondisi ini muncul akibat rusaknya pemerintahan yang diluarnya menampilkan Islam, pengaruh imperalis dunia dan kebodohan sejumlah rakyat. Menurut Sayid Jamal penderitaan umat Islam disebabkan oleh kekuasaan asing dan kebodohan umat muslim sendiri. Pejuang besar Islam ini menilai obat dari penderitaan tersebut adalah kembali kepada nilai-nilai murni Islam, persatuan di antara umat Muslim, mempelajari teknologi dan ilmu pengetahuan modern serta menyadarkan berbagai bangsa terhadap hak-hak mereka.

Dalam sebuah editorial Koran Urwah al-Wustqa, Sayid Jamal menulis tajuk berjudul "Persatuan dan Politik". Dalam artikelnya ini Sayid Jamal menulis, "Dua masalah yang saling berkaitan erat  dan tidak dapat dipisahkan serta setiap bangsa sangat membutuhkan keduanya demi meraih kehormatan dan keagungan mereka. Dua masalah tersebut adalah persatuan sosial dan independensi. Jika kalian merasakan bahwa sebuah bangsa cenderung menggapai independensi, maka berilah kabar gembira bahwa Allah Swt pasti merealisasikan janjinya untuk memberi kekuasaan kepada mereka. Allah tidak akan menghancurkan satu kaum, kecuali ketika kaum tersebut berpecah belah dan saling mencurigai. Kaum seperti ini nasibnya pasti terhina dan hancur."

Penyakit dan penderitaan masyarakat Islam saat itu yang dianalisa Sayid Jamal, saat ini pun masih tampak. Hal ini memang sangat disayangkan. Pengaruh dan kekuasaan imperialis Barat, despotisme penguasa lokal dan perpecahan di antara mazhab termasuk masalah ini. Konspirasi musuh Islam, kubu arogan dan kesalahpahaman pengikut sejumlah mazhab Islam terkait ajaran di antara mereka termasuk api yang membakar perpecahan. Namun berkat Revolusi Islam Iran dan kepiawaian rahbarnya, gelombang kebangkitan Islam di negara-negara Muslim mulai bermunculan dan berbagai harapan baru pun mulai bersemi.

Tak dapat dipungkiri bahwa pengaruh besar ideologi mujahid besar Islam seperti Sayid Jamal dalam berbagai kebangkitan ini sangat besar. Saat ini umat Islam semakin membutuhkan persatuan dan rasa persaudaraan di antara mereka. Dengan kata lain, ketika revolusi Islam di banyak negara Muslim tengah menghadapi ancaman penyelewengan dan perampasan tujuan revolusi mereka, serta mayoritas Muslim di berbagai dunia seperti Palestina, Afrika Tengah, Myanmar dan Suriah menghadapi ancaman genosida di depan mata para pengklaim pendukung Hak Asasi Manusia (HAM), maka persatuan dan wawasan tinggi menjadi keharusan.

Allah Swt dalam al-Quran menyeru umat Islam untuk bersatu dan menjauhi perpecahan. Dalam surat aali Imran ayat 103, Allah berfirman yang artinya, "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk."

Berpegang teguh dan merujuk kepada al-Quran sebagai kitab suci Muslim merupakan langkah pertama dan terpenting dalam menggalang persatuan di antara umat Islam. Selain itu, mengedepankan sisi persamaan di antara mazhab juga termasuk hal-hal yang berpengaruh dalam menggalang persatuan. Shalat, puasa, haji, zakat dan mayoritas amalan lain merupakan ritual kolektif di antara mazhab Islam.

Selain itu, kepercayaan terhadap usuluddin seperti Tauhid, Maad (kepercayaan terhadap hari kiamat) dan kenabian di antara umat Islam tidak ada perbedaan. Namun fanatisme dan esktrimisme sejumlah pengikut mazhab Islam di tambah kebodohan mereka terkait ajaran mazhab lain serta pemerintahan boneka yang meyakini keberlangsungan kekuasaan mereka dengan adanya permusuhan di antara pengikut Islam, membuat api perpecahan di antara umat Islam meletus meski adanya banyak sisi persamaan di antara mereka.

Dalam surat An-Nisa' ayat 94 Allah Swt berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan "salam" kepadamu: "Kamu bukan seorang mukmin" (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Menurut ayat ini pengakuan lisan, cukup bagi seseorang untuk disebut sebagai muslim. Prinsip nyata al-Quran ini telah menutup upaya pengkafiran seorang muslim atau sebuah mazhab Islam oleh kelompok lain. Pengabaian terhadap prinsip dasar inilah yang membuat Dunia Islam saat ini menghadapi berbagai kesulitan serius. Persatuan Islam bukan berarti semua umat Islam harus mengikuti satu mazhab tertentu. Di bawah perbedaan sejumlah keyakinan dan metodologi di antara berbagai mazhab, toleransi dan penghormatan terhadap keyakinan pihak lain harus semakin tebal. Sehingga umat Islam di bawah kehidupan yang tenang dari penghormatan timbal balik ini mampu menyebarkan agama dan menyelesaikan problematika utama Dunia Islam.(IRIB Indonesia)
SUMBER: IRIB

Selasa, 01 April 2014

Politik Luar Negeri Iran: Perspektif Global

VOAISLAM.COM  - -Oleh: Dina Y. Sulaeman*
Indonesia Council on World Affairs (ICWA), sebuah lembaga yang didirikan almarhum Ali Alatas, mantan Menlu Indonesia, kemarin menyelenggarakan sebuah forum kuliah politik dengan pembicara Menlu Iran, Dr. Javad Zarif. ICWA adalah lembaga yang beranggotakan para diplomat yang berada di Indonesia (baik diplomat Indonesia maupun negara-negara sahabat), serta para akademisi dan think tank di bidang politik luar negeri. Peneliti Global Future Institute, Dina Y. Sulaeman, berkesempatan hadir dalam acara tersebut dan menuliskan laporannya berikut ini.

***
Mohammad Javad Zarif. Wajahnya penuh senyum, dengan tatapan mata jenaka. Suasana yang awalnya formal jadi terasa segar melihat gesturnya yang rendah hati dan ramah. Saat berpidato, Menlu Iran ini menunjukkan kemampuan orasi yang luar biasa. Terkadang nadanya sangat tegas dan penuh semangat, terkadang menyelipkan humor dan membuat hadirin tergelak.  Dengan bahasa Inggris yang sangat lancar, selama sekitar 45 menit tanpa teks, dia menjelaskan kebijakan luar negeri Iran dari perspektif global. Argumen-argumennya memakai logika universal yang berpijak pada ke-kita-an, bukan ‘saya' atau ‘mereka'.

Berakhirnya Era Zero-Sum

Dalam kuliah politik bertajuk Foreign Policy of the Islamic Republic of Iran: A Global Perspective yang diselenggarakan Indonesia Council on World Affairs (ICWA), 7 Maret 2014, Menlu Iran Javad Zarif menjelaskan bahwa era politik zero-sum sudah habis. Di zaman globalisasi ini, apapun yang terjadi di satu sudut bumi, akan berpengaruh pada hampir semua penduduk bumi.  Misalnya, masalah perubahan iklim;  tidak ada satu negara pun yang mengklaim bisa menghadapinya seorang diri; selalu membutuhkan kerjasama antarnegara.

Hubungan internasional kini tidak lagi didominasi oleh dua negara besar (AS dan Uni Soviet) yang mendeterminasi arah kebijakan global seperti era Perang Dingin. Dunia tengah beralih dari community of nations (komunitas negara-negara) ke arah global community (komunitas global), di mana individu, kelompok, jaringan, mampu mempengaruhi hubungan internasional, dan artinya mampu berperan untuk mengubah situasi ke arah yang baik bagi kemanusiaan.

Dalam situasi seperti  ini, isu security (keamanan) tidak mungkin lagi dipandang sebagai isu zero-sum (aku menang, engkau kalah). Sebuah negara tidak mungkin lagi meraih keamanan dengan cara mengorbankan keamanan negara-negara lain.  Tidak ada yang bisa aman, ketika pihak lain tidak aman. Bukti terbesar dari pendapat ini adalah Tragedi 9/11. Mr. Zarif menceritakan, dirinya pernah bertugas di PBB, New York, sebelum dan setelah 9/11. Dengan matanya sendiri dia melihat ekspresi cemas dan ketakutan orang-orang New York.

Zarif bertanya retoris, "Bagaimana mungkin AS, sebuah negara dengan bujet militer terbesar di dunia, ternyata tak mampu memberikan keamanan kepada warganya sendiri? Bahkan gedung yang seharusnya paling aman, Pentagon, juga tak luput dari serangan teroris."

Amerika, yang memiliki nuklir, dan satu-satunya negara di dunia yang pernah mengebom negara lain (Jepang) dengan bom nuklir, ternyata tetap tidak aman.

 "Tetapi mengapa sebagian pemerintah negara-negara sulit sekali memahami ini?" tanya Zarif. "Dalam perang, tidak ada yang menang. Semua pihak akan kalah (rugi), meski kekalahannya punya derajat berbeda-beda, ada yang minus satu, ada yang minus sepuluh. Tapi sama-sama minus, sama-sama rugi."

Atas dasar perspektif ini, Iran atau siapapun, menurut Zarif, sesungguhnya tidak memerlukan senjata nuklir. Senjata nuklir tidak menjamin keamanan kepada negara manapun. Perjanjian NPT (Non Proliferasi Treaty) didirikan atas tiga pilar, tidak memproduksi senjata nuklir, perlucutan senjata nuklir yang telah ada, dan penggunaan nuklir untuk kepentingan damai.

"Ketika Iran ditekan dan diintimidasi dengan alasan nuklir, artinya, justru ada pelanggaran terhadap NPT, yaitu menghalangi Iran untuk mengembangkan teknologi nuklir damai," tandas Zarif.

Saat Iran disanksi, perdagangan di pasar gelap meningkat. Segelintir pedagang akan mengambil keuntungan besar, sementara rakyat Iran kebanyakan akan dirugikan oleh harga yang sangat tinggi.

"Lalu, rakyat Iran menjadi sangat marah kepada negara-negara pemberi sanksi.  Mereka menilai bahwa kesulitan ekonomi yang ada adalah gara-gara negara-negara pemberi sanksi. Mereka tidak marah kepada pedagang yang mengambil keuntungan di pasar gelap itu. Jadi, siapa yang rugi sebenarnya?" Zarif kembali memberi pertanyaan retoris.

Di sini, Zarif memberi pesan bahwa AS dan Eropa dengan segala sanksinya itu, telah merugikan rakyat Iran  dan diri mereka sendiri sekaligus; dan telah menciptakan segelintir oportunis yang bergelimang uang dengan memanfaatkan sanksi.

Selain itu, dijelaskan oleh Zarif, terbukti bahwa meski disanksi belasan tahun, Iran tetap berhasil menambah mesin sentrifugalnya, dari 200 unit (di awal tahun 2000-an) menjadi 19.000 unit. Dukungan rakyat kepada pemerintah pun justru semakin meningkat. Padahal, salah satu tujuan sanksi Barat adalah agar rakyat menjadi marah kepada pemerintah dan terjadi pergantian rezim. Namun, yang terjadi adalah turn-out vote (jumlah peserta pemilu) yang sangat tinggi, menunjukkan dukungan rakyat terhadap sistem. Hal ini memberikan legitimasi yang besar kepada pemerintah; memberi mereka kekuatan untuk bernegosiasi dengan pihak luar.

Tentang Suriah

Dalam sesi tanya-jawab, penulis berkesempatan mengajukan pertanyaan kepada Mr. Zarif, "Sejak konflik Suriah, di Indonesia banyak pihak yang melakukan hate-speech (pidato/pernyataan kebencian ) terhadap Iran. Apakah Anda melihat masalah ini akan jadi hambatan bagi hubungan Iran-Indonesia?"

Mr. Zarif menjawab, "Siapa saja yang memandang konflik Suriah sebagai konflik Sunni-Syiah,  hanya akan merugikan Dunia Islam dan kemanusiaan. Konflik ini sama sekali bukan masalah sektarian.  Umat Islam harus bersatu menghadapi terorisme yang terjadi di Suriah. Allah berfirman, qul yaa ahlal kitaab ta'aalaw  ilaa kalimatin sawaa... " (Zarif mengutip ayat Quran dengan fasih, yang berisi seruan dari Allah kepada semua pemegang kitab wahyu agar bersatu dalam kalimat yang tunggal, bahwa tidak ada yang patut disembah selain Allah).

Situasi yang terjadi di Suriah saat ini, selain menyedihkan, juga sangat mempermalukan Islam. Kita lihat sesama Al Qaida di Suriah saat ini saling memenggal kepala. Mereka mengklaim diri sebagai muslim sehingga perilaku mereka itu benar-benar mempermalukan Islam," kata Zarif.

"Barat berusaha memberikan ilusi bahwa konflik Suriah adalah rentetan dari Arab Spring dan bahkan berilusi bahwa dalam dua bulan Assad bisa digulingkan. Ilusi ini harus dihapus. Rakyat Suriah harus dibiarkan untuk menentukan sendiri nasib mereka, tanpa campur tangan asing. Iran memandang bahwa sama sekali tidak boleh ada intervensi asing dan solusi militer untuk Suriah," tambahnya.

Mr Zarif juga kembali mengingatkan bahwa ilusi zero-sum harus dihapus dalam memandang konfik Suriah. Kondisi Suriah saat ini membuktikan, tidak ada yang menang; semua pihak sama-sama kalah dan rugi di Suriah.

"Namun upaya [untuk mengubah ilusi] itu, sepertinya masih memerlukan waktu yang panjang," kata Zarif.

Tak Ada yang Lebih Mahal dari Kemerdekaan

Lebih lanjut, terkait nuklir, Iran mengambil langkah untuk lebih memperkuat hubungan dengan negara-negara yang sevisi dengannya dalam masalah pemanfaatan nuklir damai. Menurut Zarif, lebih baik memperkuat tangan negara-negara yang tidak setuju dengan sanksi daripada Iran daripada terus berseteru dengan negara-negara yang berkeras kepala untuk menerapkan sanksi kepada Iran.
"Negara-negara itu, terutama diplomatnya, punya kepentingan pribadi dengan terus mengangkat isu sanksi,  demi peningkatan karir mereka," kata Zarif yang disambut tawa peserta kuliah politik itu, yang sebagian besarnya adalah para diplomat.

"Yang diperlukan Iran kini adalah masalah kepercayaan internasional. Dengan hitung-hitungan logis saja, tanpa perlu melibatkan masalah ideologi, Iran tahu bahwa upaya memperluas power (kekuasaan) dan dominasi di kawasan, justru akan melemahkan power Iran sendiri," lanjutnya.

"Barat seharusnya mengakui bahwa sanksi telah gagal," tandas  Zarif. Tapi yang terjadi, sebagian negara tetap mau berbisnis dengan Iran; saat diancam sanksi oleh AS, mereka bisa balik mengancam akan menuntut ke WTO. Zarif juga  menceritakan, selain tekanan embargo, Iran juga diserang melalui terorisme. Hingga kini ada lima ilmuwan nuklir yang dibunuh oleh agen Israel.

"Kami telah membayar mahal demi mempertahankan proyek nuklir damai ini. Namun, tidak ada yang lebih mahal dari kemerdekaan, harga diri, dan integritas," tegas Zarif.[IRIB Indonesia/PH]

 *mahasiswa Program Doktor Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, peneliti di Global Future Institute

SUMBER ; IRIB